MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Minggu, 25 September 2016 - 17:05:26 WIB

Terkena Hipoksia? Beberapa Tips Menangani-nya buat Para Pendaki Gunung

Kategori: Tips & Trik Diposting oleh : Marina - Dibaca: 3894 kali



MapalaPTM.Com (25/9) - Badan yang terasa sangat lelah, lemas dan pusing, sering dikaitkan dengan keadaan tubuh yang kekurangan oksigen. Oksigen merupakan kebutuhan pokok bagi tubuh kita, supaya bisa menjalani berbagai aktivitas. Jika kekurangan, tentu akan menyebabkan berbagai macam gangguan. Kurangnya pasokan oksigen dalam tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya dikenal dengan istilah hipoksia.
 
Hipoksia berkaitan erat dengan hipoksemia, yakni rendah atau berkurangnya pasokan oksigen dalam darah. Kebutuhan oksigen dalam darah, sekitar 150 mmhg dibutuhkan untuk paruparu, lalu yang didistribusikan ke otak adalah sekitar 50 – 70 mmhg, supaya tubuh bisa berfungsi dengan normal. Berada dalam keadaan atau tempat dengan kadar oksigen yang tipis, misalnya berada di puncak gunung, kita perlu berwaspada. Kenapa?
 
“Oksigen itu untuk membantu metabolisme sel-sel dalam tubuh, kalau kekurangan, bisa terjadi kematian sel, atau sel-sel tersebut menjadi tidak berfungsi, kalau tidak berfungsi, bagian-bagian di dalam tubuh bisa rusak,” papar dr Yuriz Bahtiar, PhD.SpBS ahli bedah saraf RSND Semarang.
 
Yuriz pun menjelaskan, setiap satu menit, 20% darah dalam tubuh dialirkan ke otak. Meski sebenarnya tubuh kita memiliki mekanisme auto regulasi, yakni membuat otak bisa bertahan lebih lama dalam keadaan kekurangan oksigen, tubuh kita bisa saja mengalami hipoksia.
 
Dalam keadaan hipoksia, tubuh kita mengalami vasodilatasi, yakni terjadinya pelebaran pembuluh darah supaya darah lebih banyak mengalir ke otak. Makanya pada ketinggian gunung atau dalam keadaan oksigen yang tipis, jari-jari tangan terasa kaku atau membiru. “Ini seolah-olah anggota tubuh lainnya ‘dikorbankan’ supaya pasokan darah cukup untuk otak, supaya kita tetap sadar,” jelas Yuriz.
 
Mengapa otak membutuhkan begitu banyak darah – -dan tentu saja oksigen–? Karena satu-satunya ‘makanan’ untuk otak hanya bersumber dari gula darah. Untuk itu, para pendaki gunung biasanya melakukan persiapan yang matang, dan bila perlu mereka membawa tabung berisi oksigen untuk berjaga- jaga. Selain berada pada puncak gunung, berada dalam ruangan atau tempat yang tercemar, juga berisiko terhadap hipoksia. Misalnya berada di tengah kebakaran, atau ruangan yang penuh asap rokok.
 
 
Penanganannya
 
Dalam keadaan kekurangan oksigen, jantung akan memompa darah lebih cepat. Sehingga gejala awal dari hipoksia adalah bernapas dengan cepat, terengah-engah. Lalu sesak napas, tubuh menjadi lemas, bisa terjadi kejang, jika terus berlanjut dan tidak segera ditangani, bisa terjadi pembengkakan otak dan paru-paru. Inilah yang berbahaya, karena bisa menyebabkan kematian, seperti yang dialami alm. Prof. Widjajono Partowidagdo, M.Sc, M.A, Ph.D, mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia meninggal dunia di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat pada 21 April 2012, disebutkan bahwa penyebabnya karena mengalami hipoksia. Mengapa masyarakat yang tinggal di dataran tinggi bisa ‘kebal’ terhadap hipoksia ataupun hipoksemia?
 
Ini karena tubuh mereka sudah beradaptasi dengan lingkungan berkadar oksigen tipis sejak mereka lahir. Secara fisik, kapasitas paru-parunya lebih besar, dan ukuran jantungnya juga lebih besar daripada orang yang tinggal di dataran rendah. Jika Anda mendaki gunung, dan melihat tandatanda hipoksia dari salah seorang rombongan, pertolongan pertama atau basic life support yang bisa Anda lakukan adalah tindakan ABC; Air way, Breathing, dan Circulation.
 
Air way adalah dengan membebaskan jalan napasnya, misalnya melonggarkan pakaiannya pada daerah dada, memberinya ruang yang nyaman untuk bernapas, atau membawanya ke tempat yang lebih rendah. Ini karena semakin tinggi suatu tempat, semakin tipis oksigennya. “Pada tiap ketinggian 5000 meter, kadar oksigen turun separuh dari jumlah normal, dan begitu seterusnya setiap 5000 meter,” ujar Yuriz.
 
Selanjutnya Breathing atau dengan memberikan napas buatan, dan Circulation melalui menormalkan denyut jantung atau memberi CPR (Cardiopulmonary resuscitation). Jika cara ABC tersebut tidak berpengaruh, maka segera bawa korban ke rumah sakit terdekat. Karena yang dikhawatirkan dari kondisi hipoksia adalah jika sampai terjadi pembengkakan otak dan paru-paru.
 
 
Tips Pendaki Gunung
 
Dengan kadar oksigen yang menurun pada setiap ketinggian 5000 meter dan kelipatannya, istirahat pada titik tertentu sebelum batas berkurangnya jumlah oksigen, sangat penting. Bermalam sehari atau dua hari, akan membuat tubuh kita beradaptasi dengan lingkungan, sekaligus semacam memberi pasokan oksigen yang cukup bagi tubuh. Jadi, jangan abaikan istirahat. Kemudian, dalam satu tim atau rombongan pendaki, minimal harus ada satu orang petugas kesehatan, membawa alat-alat kesehatan, dan bila perlu tabung oksigen.
 
Bagi para pendaki baru, melakukan pendakian secara bertahap; yakni mendaki hanya sampai jarak ketinggian tertentu pada setiap kesempatan, penting sebagai latihan penyesuaian, sebelum kemudian menambah ‘jarak tempuh’ yang lebih tinggi. “Tidak ada istilah ‘sudah terbiasa’ untuk melalaikan persiapan yang matang, berhenti untuk beristirahat, mengajak ahli atau petugas dan membawa alat-alat kesehatan ketika akan mendaki gunung. Fisik Anda mungkin kuat atau sudah terbiasa, tapi orang lain belum tentu memiliki fisik yang sama kuatnya dengan Anda,” papar Yuriz
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber: SuaraMerdeka
 
-Portal Berita Petualang-
#Twitter: @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
#Fanspage @facebook: MapalaPTM.Com
#Hastag: #MapalaPTM
 
Jika para petualang, Backpacker, Pecinta Alam, Mapala, maupun Sispala yang hobby menulis tentang Kegiatan- kegiatan Organisasinya, petualangannya, kritik kerusakan lingkungan, Wisata Alam,  dan Artikle-nya ingin dimasukan ke Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com, Silahkan tulisannya kirim ke email: MapalaPTM@gmail.com atau inbox ke Fanspage MapalaPTM.Com yang di facebook. 
 
Kami juga akan membuatkan username akun penulis dan passwordnya di portal MapalaPTM.Com, agar para penulis bisa langsung memposting artiklenya sendiri ke portal berita petualang MapalaPTM.Com
 
Yuukkk Mari Menulis, Berbagi itu Indah...





Berita Terkait


Pemain Bola Bintang Muda Persela Lamongan Ketagihan Mendaki Gunung
Diterjang Longsoran Salju, 4 Pendaki Tewas di Rute Pendakian Himalaya
Tim Consina Outdoor Service Tancapkan Merah Putih di Gunung Elbrus
Dua Pendaki Meninggal Akibat Terjebak Cuaca Buruk
Tim SAR berhasil Evakuasi Pendaki Jakarta yang pingsan di Gunung Sumbing



IP Anda Adalah: 54.224.102.26

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2803066)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (46219)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (40833)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (32866)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (30045)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (29521)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (29071)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (28744)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (24846)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (23650)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (22909)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (20502)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (20059)

Jelang Milad ke-X, Mapalamu Luwuk Banggai Sulawesi Tengah Gelar Berbagai Kegiatan

Kerinci, Atap Sumatera Mempesona Berhasil Digapai Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days

Manfaatkan momen Car Free Day, MAPALA UMRI lakukan kegiatan ini

Anggota UPL MPA Unsoed Purwokerto Buka Jalur Pendakian di Gunung Slamet via Penakir

Keluarga Besar Mapala Muhammadiyah Se-Indonesia Ucapkan Selamat Milad Kepada Muhammadiyah Ke-105

Jenasah Pendaki Gunung Lawu Ditemukan Membusuk, Diperkirakan Meninggal Lebih dari Sebulan

Yogyakarta Siap Gelar Kejurnas Panjat Tebing XVI Untuk Jaring Atlet Potensial

GEMAPALA WIGWAM FH UNSRI sukses adakan kegiatan MUSI RIVER CAMP

Mengenal Lebih Dekat Pencinta Alam di Kota Sejuta Bunga, Mapala "SULFUR" UNTIDAR Magelang

II-Outfest, Pameran Aktivitas Outdoor Terbesar akan Meriahkan Pertama Kalinya di Kota Makassar

Kongres IV Pecinta Alam Bandung Raya Rekomendasikan Forum Nasional Pecinta Alam Indonesia

Membentuk Karakter Pemuda Lewat Pendidikan Dasar KPA Summit Adventure

Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days Menggapai Puncak Rantemario, Latimojong