MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Senin, 20 Februari 2017 - 12:47:55 WIB

Mengapa Seorang Petualang Harus Menulis? Ada Penjelajah yang Melegenda dan Ada yang Tidak

Kategori: Opini Diposting oleh : Ahyar Stone - Dibaca: 2525 kali



Foto: Saat Roald Amundsen Memimpin Tim Norwegia Untuk Ekspedisi ke Antartika, Tahun 1911
 
Yogyakarta, MapalaPTM.com (20/2) - Seorang pecinta alam pada dasarnya adalah mahluk penjelajah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Menjelajah adalah menelusuri (suatu daerah) sampai ke pelosok-pelosok, bepergian kemana-mana untuk menyelidiki, meneliti, mengamati dsb. Sebagai penjelajah, seorang pecinta alam pasti memiliki motivasi kuat untuk menjadi orang pertama yang berada di suatu tempat. Terutama tempat terpencil, dan mungkin ekstrem. 
 
Aktivitas penjelajahan di alam bebas sebenarnya bukan marak sekarang saja. Namun, telah dilakukan jauh sebelum muncul istilah pecinta alam, traveler, backpacker, my life my adventure, dan istilah sejenis seperti saat ini.
 
Tahun 1911 umpamanya,  penjelajah berkebangsaan Norwegia, Roald Amundsen, memimpin eskpedisi Antartika. Setelah berjuang selama 99 hari, ekspedisi yang beranggotakan 18 pemuda Norway ini, pada pertengahan Desember 1911, berhasil menuntaskan perjalanan beratnya melintasi medan beku di kutub terdingin di dunia. Komandan tim, Amundsen dicatat sebagai manusia pertama yang mencapai Kutub Selatan.  
 
Awal tahun 1924. George Mallory memimpin The British Expedition. Inggris. Tim ini bercita-cita menjadi yang pertama sampai ke puncak gunung tertinggi di dunia, Everest. Tetapi, perjuangan terakhir Mallory bersama pendaki berbakat, Andrew Irvine, berakhir pilu. Keduanya tewas oleh penyebab yang masih misteri.
 
Pada 29 Mei 1953, bermodal catatan - catatan peninggalan mendiang Mallory, pendaki terkenal asal New Zealand, Edmund Hillary yang ditemani sherpa berkebangsaan Nepal, Tenzing Norgay, berhasil menginjakan kakinya di puncak Everest. Sukses ini membuat nama Hillary dan Norgay dicatat sebagai dua manusia pertama yang berhasil mencapai puncak Everest. 
 
Foto: Saat Edmund Hillary dan Tenzing Norgay melakukan pendakian ke Everest, Tahun 1953
 
Penjelajah kelas dunia tentu tidak cuma Amundsen, Mallory, Hillary, atau pesohor alam bebas lainnya seperti Ernest Shackleton, Reinhold Messner, dan termasuk dari Indonesia, misalnya Norman Edwin. Masih banyak yang lain. Jumlahnya mencapai ratusan. Atau mungkin ribuan orang. Namun, mengapa hanya beberapa nama  saja yang dikenal sekaligus dikenang dunia? Jawabannya sederhana : karena mereka menulis. Sedangkan penjelajah lain tidak. 
 
Amundsen menuliskan pengalaman menjelajahnya dalam beberapa buku. Salah satunya First Crossing of The Polar Sea. Hillary menerbitkan catatan pendakian dan kisah–kisah perjalanannya dalam banyak judul buku. Diantaranya The Ascent of Everest, dan buku Nothing Venture, Nothing Win yang penuh kata – kata inspiratif. 
 
Messner mencatat kronologis setiap pendakiannya di lebih dari 50 judul buku. Tiga diantaranya adalah The Crystal Horizon: Everest - The First Solo Ascent. Buku ini bercerita tentang pendakian solonya ke Gunung Everest. All Fourteen 8,000ers. Buku tebal ini berisi catatan seluruh pendakian Messner di puncak gunung berketingaian 8.000 meter lebih. Serta The Naked Mountain yang mengupas pendakian pertama Messner di  Himalaya.
 
Foto: Reinhold Messner saat pendakiannya ke puncak Nanga Parbat, Tahun 1978
 
Norman Edwin menceritakan pengalamannya mendaki gunung, menyusuri gua, arung jeram, dan operasi SAR, melalui tulisan di Kompas, Mutiara, Hai, Intisari, dan media cetak lain. Norman juga menulis buku berjudul Mendaki Gunung Sebuah Tantangan Petualangan. Buku ini pernah menjadi semacam bacaan wajib penggemar mendaki gunung di Indonesia.
 
Melalui tulisan, tidak cuma membuat para penjelajah itu ngetop, tapi juga menginspirasi orang lain. Baik untuk melakukan kegiatan serupa dengan bobot berbeda, ataupun melakukan aktivitas ilmiah untuk melahirkan teori baru di berbagai bidang keilmuan.
 
Tulisan Messner tentang pengalamannya mendaki 14 puncak gunung berketinggian diatas 8000 meter tanpa tabung oksigen, telah menggiring ilmuwan merevisi teori mereka yang semula tidak bisa, menjadi, “Manusia bisa hidup diatas ketinggian 8000 meter tanpa bantuan tabung oksigen”. Teori ini masih dipakai sampai hari ini. 
 
Kisah tentang penjelajah kelahiran Irlandia, Ernest Shackleton, yang gagal melintasi Antartika pada 1914 – 1916, memicu lahirnya teori manajemen krisis di bidang ilmu manajemen. Upaya bertahan hidup Shackleton beserta 27 orang anggotanya di situasi teramat sulit lantaran kapal Endurance yang mereka naiki terjebak di laut yang membeku, dijadikan referensi para pengajar manajemen membangun ketangguhan mental siswanya dalam menghadapi segala macam situasi buruk dunia bisnis. 
 
Perjalanan Amundsen mengilhami ilmuan mendirikan laboratorium Internasional di Artatica. Tiap tahun ratusan peneliti dari berbagai Negara berdatangan kesana. Sampai sekarang riset ilmiah di kutub selatan masih berlangsung. 
 
Manfaat Menulis
Sebagai seorang penjelajah, pecinta alam era kini juga dapat melakukan penjelajahan yang menginspirasi orang lain, Cara paling efektif  untuk membuat sebuah penjelajahan menjadi inspiratif, adalah melalui tulisan. 
 
Melalui tulisannya, seorang pecinta alam tidak sekedar dapat mendokumentasikan kegiatannya menjadi lebih dokumentatif, tetapi juga mendistribusikan informasi dan pengetahuan baru ke khalayak. Dengan membagikan manfaat kegiatannya dari segi ilmu pengetahuan kepada  orang  lain, ia sudah berpartisipasi mencerdaskan bangsa.  Ini berarti ia melaksanakan Kode Etik Pecinta Alam.  
 
Dengan menulis pula, seorang dari organisasi pecinta alam yang berbasis di Kampus (Mapala), secara otomatis melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu : pendidikan, penelitian & pengembangan, dan pengabdian pada masyarakat.
 
Catatan, atau kisah-kisah para pecinta alam yang berasal dari penyelidikan, penelitian, dan pengamatan langsung terhadap objek yang  dijelajahi, tentu orisinil dan mengandung kadar ilmiah. Dengan bobot seperti itu, informasi produk para pecinta alam bakal membawa dampak positif  terhadap kehidupan orang banyak. 
 
Tentu, manfaat menulis bukan sekedar untuk orang lain. Untuk si penulis sendiri, disamping membuatnya ternama, manfaat yang bakal didapatnya juga banyak. Diantaranya, Manfaat pertama : menumbuhkan minat membaca. Seorang yang ingin menjadi penulis, harus banyak membaca. Baik membaca buku, koran, majalah, makalah, kamus istilah popular,  maupun media online. 
 
Membaca memang modal penting seorang penulis. Hambatan mendasar mengapa sejumlah orang sulit menulis, sebenarnya bukan karena menulis itu sukar,  atau karena tidak berbakat. Melainkan karena mereka malas membaca. Seorang penulis yang baik pasti pembaca yang baik. Jika malas membaca, pasti akan mengalami kebuntuan ide saat hendak menulis.
 
Orang yang terbiasa membaca, tidak akan menemui kebuntuan ide. Makin banyak membaca, pengetahuannya bertambah. Ia menjadi kian memahami gagasan yang hendak ditulis. Ia akan kreatif. Otaknya tidak mampet. Dengan rajin membaca, ia juga dapat mengetahui berbagai gaya bahasa, ragam tulisan,  dan aneka kosa kata  baru.  Tiga hal ini dperlukan pula untuk menghasilkan tulisan.  
 
Manfaaat kedua: melatih berpikir sistematik. Seorang penulis tentu ingin karyanya mudah dipahami, sehingga berdampak positif bagi pembacanya. Penulis yang baik akan menghindari membuat tulisan bertele-tele, atau mengumbar kata-kata yang tidak perlu. Tulisan yang tidak ketahuan mana mana ujung mana pangkal, umumnya dibuat oleh mereka yang  pikirannya belum tertata . Tulisan yang gampang dicerna,  pasti dibuat oleh orang yang pikirannya tertata rapi alias sistematik.  
 
Manfaat ketiga : membiasakan diri melihat persoalan melalui sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan. Secara alamiah, pembaca akan bosan disuguhi itu-itu saja. Untuk menghindarinya, seorang penulis cenderung mengangkat sesuatu yang baru. Mereka enggan menulis sesuatu yang sudah biasa dibahas, atau yang telah diketahui pembaca.  Jika terpaksa menulisnya, ia akan mengangkat sisi yang luput dari perhatian khalayak.
 
Bisa karena biasa
Secara umum kesulitan seorang pecinta alam menulis kisah penjelajahannya adalah, “Apa yang akan ditulis, dan dari mana memulainya?” 
 
Sebenarnya itu bukan kesulitan, melainkan – disamping faktor kurang suka membaca -- karena terlalu banyak yang ingin ditulis.  Merasa semua yang terjadi di penjelajahannya, merupakan kisah penting yang wajib diketahui publik. Jadi ingin ditulis semua.  Akibatnya malah bingung sendiri. 
 
Kebingungan itu bisa disiasati dengan memilah – milahnya. Mana pengetahuan yang berguna untuk diketahui publik. Mana peristiwa yang perlu ditindaklanjuti pihak lain. Mana pengalaman yang mengandung muatan inspirasi. Mana kejadian yang cukup dikenang dalam ingatan pribadi saja. Tulisan yang dihasilkan dapat berbentuk catatan perjalanan, dan bisa pula berupa artikel lepas.
 
Berikutnya, akan dikemanakan tulisan tadi. Dimuat di blog pribadi, web organisasi, portal berita, buletin kampus, atau media cetak yang dijual bebas?  Setiap media mempunyai aturan, dan gaya bahasa sendiri. Mengetahui spesifikasi tiap media, mutlak pula dilakukan. 
 
Apabila keahlian mendaki gunung dikatakan bukan bakat bawaan lahir, kemampuan menulis bukan pula  bakat bawaan. Keduanya membutuhkan latihan. Bila latihan terbaik mendaki gunung adalah mendaki gunung, maka latihan terbaik menulis adalah menulis. Ingin jago menulis, biasakan menulis, sembari pupuk keberanian untuk menyajikannya ke khalayak melalui media. Rumus bisa karena biasa, berlaku disini. 
 
Mallory, Hillary, Messner, Norman Edwin, dan Amundsen, berhasil menulis sejumlah buku, bermula dari latihan menulis. Lalu memberanikan diri menulis kisah penjelajahannya di macam - macam media. Inilah yang menjadikan mereka legenda. Sementara yang  lain tidak. 
 
 
 
 
 
 
Kontributor: Ahyar Stone - Malimpa UMS Solo
 
-Portal Berita Petualang-
Hastag #Mapala #MapalaPTM
#Portal Berita: MapalaPTM.com 
#Outdoor Gear: Warung.MapalaPTM.com
#Facebook: MapalaPTM.com
#Twitter  : @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
 
Jika para petualang, Backpacker, Pecinta Alam, Mapala, maupun Sispala yang hobby menulis tentang Kegiatan- kegiatan Organisasinya, petualangannya, kritik kerusakan lingkungan, Wisata Alam,  dan Artikle-nya ingin dimasukan ke Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com, Silahkan tulisannya kirim ke email: MapalaPTM@gmail.com atau inbox ke Fanspage MapalaPTM.Com yang di facebook. 
 
Kami juga akan membuatkan username akun penulis dan passwordnya di portal MapalaPTM.Com, agar para penulis bisa langsung memposting artiklenya sendiri ke portal berita petualang MapalaPTM.Com
 
#Apabila ada teman-teman yang ingin kejuaraan panjat dinding-nya kita tayangkan di halaman MapalaPTM.com, diharapkan mengirimkan dalam bentuk artikle berita + famplet berbentuk landscape untuk judul beritanya.
 
Yuukkk Mari Menulis, Berbagi itu Indah...





Berita Terkait


Lima Pendaki yang dilaporkan Hilang di Gunung Kambuno Sulsel Telah Ditemukan Dengan Selamat
Dinding Gunung Es Runtuh Akibat Pemanasan Global, 6 Pendaki Tewas di Pegunungan Alpen
Puisiku Untuk Mapala UII, Kisah Pilu Yang Seharusnya Tak Terjadi pada Awal 2017 di Tanah Yogyakarta
Layanan Komunikasi Nepal Akan Ciptakan Zona Wifi Gratis Buat Para Pendaki di Basecamp Gunung Everest
Bencana Banjir Merendam di 11 Kecamatan, Tim SAR Mapala PTM kirim Satu SRU ke Pandeglang



IP Anda Adalah: 54.224.102.26

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2803062)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (46219)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (40832)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (32866)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (30045)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (29521)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (29071)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (28744)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (24846)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (23650)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (22909)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (20502)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (20059)

Jelang Milad ke-X, Mapalamu Luwuk Banggai Sulawesi Tengah Gelar Berbagai Kegiatan

Kerinci, Atap Sumatera Mempesona Berhasil Digapai Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days

Manfaatkan momen Car Free Day, MAPALA UMRI lakukan kegiatan ini

Anggota UPL MPA Unsoed Purwokerto Buka Jalur Pendakian di Gunung Slamet via Penakir

Keluarga Besar Mapala Muhammadiyah Se-Indonesia Ucapkan Selamat Milad Kepada Muhammadiyah Ke-105

Jenasah Pendaki Gunung Lawu Ditemukan Membusuk, Diperkirakan Meninggal Lebih dari Sebulan

Yogyakarta Siap Gelar Kejurnas Panjat Tebing XVI Untuk Jaring Atlet Potensial

GEMAPALA WIGWAM FH UNSRI sukses adakan kegiatan MUSI RIVER CAMP

Mengenal Lebih Dekat Pencinta Alam di Kota Sejuta Bunga, Mapala "SULFUR" UNTIDAR Magelang

II-Outfest, Pameran Aktivitas Outdoor Terbesar akan Meriahkan Pertama Kalinya di Kota Makassar

Kongres IV Pecinta Alam Bandung Raya Rekomendasikan Forum Nasional Pecinta Alam Indonesia

Membentuk Karakter Pemuda Lewat Pendidikan Dasar KPA Summit Adventure

Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days Menggapai Puncak Rantemario, Latimojong