MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Jumat, 24 Maret 2017 - 20:19:24 WIB

Ketika PPA Hampir Meregang Nyawa, Sejarah Pertama Kali Pecinta Alam Terbentuk di Indonesia

Kategori: Sejarah Diposting oleh : Via Rosaline - Dibaca: 1976 kali



MapalaPTM.com (24/3) - Kapan kegiatan pencinta alam secara resmi mulai di Indonesia? Benarkah perkumpulan pencinta alam pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1964 di Bandung dan Jakarta?
 
Didirikan pertama kali di Jakarta oleh MAPALA UI atas inisiatif Soe Hok Gie dan beberapa teman-temannya sesama penggiat alam. Selang beberapa bulan kemudian, di Bandung pun menyusul perkumpulan pencinta alam “WANADRI” pada tahun yang sama, 1964.
 
Perkumpulan Pentjinta Alam atau PPA, merupakan jejak pertama kegiatan hobi yang berkaitan dengan aktivitas luar ruangan. Meski sejarah keberadaan PPA maupun sosok pendirinya sangat terbatas, namun penggunaan kata “Pentjinta” merupakan bentuk pilihan kearifan dalam kegiatan luar ruangan. 
 
Kearifan yang mungkin saja telah hilang dalam tindakan kebanyakan orang, yang justru menjadi perusak lingkungan. ‘Pentjinta alam’, merupakan frase yang tak butuh penjelasan besar, karena cinta telah diketahui oleh siapapun, meski dalam beragam makna, defenisi dan pengertian.
 
Apapun itu, cinta selalu membutuhkan pengorbanan besar dari seorang pencinta. Awibowo sendiri mengatakan tentang alasan mengapa ia memilih ‘Pentjinta Alam’.“Kami ramai berdiskusi soal istilah yang akan dipakai untuk menyebutkan perkumpulan itu,” cerita Awibowo.
 
Ada yang mengusulkan untuk memakai istilah “Penggemar Alam” atau “Pesuka Alam”. “Tapi saya mengusulkan istilah “Pentjinta Alam”, karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar atau suka,” tutur Awibowo melanjutkan cerita kepada Norman. 
 
Menurut Awibowo, gemar atau suka mengandung makna eksploitasi belaka, tetapi cinta mengandung makna mengabdi. “Bukankah kita dituntut untuk mengabdi pada negeri ini?” Tanya Awibowo member penegasan pada Norman, kala itu.
 
Istilah Pentjinta Alam, terasa aneh saat itu, karena cinta masih seidentik dengan urusan asmara. Namun Awibowo tak peduli.
 
Tujuan pendirian PPA adalah “Memperluas serta mempertinggi rasa tjinta terhadap alam seisinja dalam kalangan anggauta-anggautanja dan masjarakat oemoemnja.” PPA waktu itu merupakan kelompok hobbi. 
 
Anggaran dasar PPA menyebutkan, “PPA (Perkumpulan Pentjinta Alam) adalah perkumpulan kesukaan (hobby).” “Hobby diartikan suatu kesukaan jang positif serta sutji, lepas dan sutji dari “sifat maniak” jang semata-mata melepaskan nafsunya dalam tjorak negatief.”
 
Apapun dan siapapun yang dicintai atau menjadi yang tercinta, harus dilindungi agar tak menjadi korban atau dikorbankan. Pencinta harus mencintai apapun dan siapapun yang dicintainya, melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Pencinta harus siap menjadi korban dari semua resiko yang timbul akibat menjadi pencinta. 
 
Cinta memang selalu seimbang dengan resiko yang dihadapi seorang pencinta. Keseimbangan yang tak dapat dijalani semua orang, karena itu tak banyak yang menjadi pencinta. 
 
Seorang pecinta haruslah yang terpilih dari setiap ujian ambang resiko yang melebihi logika standar. Pencinta adalah manusia pilihan. Pilihan yang berasal dari akar jiwa dan bibit hati yang ikhlas.
 
Akar usia PPA tidaklah lama, karena di akhir 50-an bubar. Perkembangan komunis dan situasi politik yang memburuk mengakibatkan PPA tak bisa berumur lama. 
 
Resiko dari sebuah cinta memang demikianlah adanya, kalau tak bisadipertahankan lagi lebih baik bubar. Bubar sebagai nama, tidaklah mengapa. Nama bisa dibuat lagi dalam perkumpulan, organisasi dan kelompok yang berbeda.
 
Cinta tak perlu pelabelan nama, sebab dari dulu cinta yang terbaik selalu anonim. Memberi suatu nama pada cinta dan kemudian menjelaskannya, seperti memakan apel. Kita tak akan pernah tahu seperti apa rasanya, meski melalui penjelasan kalimat terperinci dan defenisi yang paling rumit. 
 
Apel tak akan pernah diketahui rasanya, jika tak pernah memakannya. Bunga mawar juga begitu, bila tak pernah tertusuk durinya, keharuman bunganya tak lengkap terasa di penciuman. Bau anyir darah akibat tusukan duri, akan menambah keharuman bunga mawar.
 
Cinta juga seperti itu, harus didalami pada tingkat rasa, bukan logika yang memberatkan pikiran. Memang cinta bukanlah sebuah rasa dari sesuatu yang bisa dimakan seperti apel atau keharuman bunga mawar. 
 
Sepertinya jika hendak merasakan keharuman dan keindahan bunga mawar, tempat yang terbaik adalah taman. Itulah yang dilakukan Awibowo di usia senjanya. 
 
Terhadap kecintaannya pada taman, ia berkata, ““Bila ingin hidup senang sehari, makanlah. Bila ingin hidup senang sebulan, menikahlah. Tapi, bila ingin hidup sejahtera selamanya….buatlah taman!” Demikianlah, Almarhum Norman Edwin, telah memperkenalkan kita kepada ‘Sang Biang Pentjinta Alam dan Sang Pencinta Taman itu’.
 
Memegang apel di tangan dalam waktu cukup lama, akan membuatnya busuk pada suatu ketika. Begitupun mawar akan cepat terkulai layu bila dalam genggaman. 
 
Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipegang dalam rengkuhan jemari. Dua telapak tangan kita teramat kecil untuk memahami alam dalam bentuk jamahan. Namun dua telapak tangan itu bila tak terjaga, pasti bisa membusuki alam dimana-mana.
 
Cinta tak akan pernah membuat pembusukan atau terbusuki. Kalau ada yang busuk, itu pasti berasal dari hati kotor dan perbuatan yang durjana. Cinta tak akan pernah ada di hati dan perbuatan semacam itu.
 
Ketika PPA hampir meregang nyawa, istilah ‘Pencinta Alam’ muncul kembali dalam nama berbeda, yakni Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi. 
 
Saat itu beberapa mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengadakan pendakian di gunung Pangrango. Meski kelompok ini didirikan oleh mahasiswa, namun kalangan non-mahasiswa dilibatkan pula menjadi anggota. 
 
Cinta memang abadi, tapi nama yang menggunakannya berusia singkat. Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi hanya bertahan di tahun kedua. Mati pada nama, namun tidak pada cinta dan para sang pencinta.
 
Gagasan keberadaan Pencinta Alam sebagai suatu nama, muncul kembali pada suatu sore saat kerja bakti di Taman Makam Pahlawan Kalibata oleh Soe Hok Gie. 
 
Gagasan yang lahir di kuburan ini, kemudian berlanjut pada pertemuan kedua. Saat itu Herman O. Lantang yang menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. 
 
Nama baru tersebut yakni IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Nama ini bukan berasal dari mahasiswa, namun dari pihak birokrat kampus yang menaruh minat pada organisasi tersebut. Nama Impala, kemudian tidak disetujui PD 3 FSUI dengan alasan terlalu borjuis.
 
Dari balik sejarah yang berbeda, Impala dikatakan borjuis sebab merupakan produk mobil Chevy/Chevrolet yang mewah masa itu. Impala adalah bagian dari lakon buruk petinggi negara, yang lebih memilih produk yang mewah daripada berbakti pada bangsa. 
 
Gambaran ke’impala-an’ dan keborjuisan petinggi negara juga terjadi sekarang ketika anggota DPR menggunakan mobil Toyota Crown Royal Salon 2008. 
 
Salah satu contoh kemewahan Impala, terlihat dari penolakan Muhammad Natsir ketika ditawari mobil Chevy tersebut. Beliau tetap memilih mobil deSoto yang berharga jauh lebih murah, bahkan memilih naik sepeda.
 
Ide tentang Impala berhenti dalam alur sebuah sejarah yang terjadi sebelumnya. Impala kemudian diubah menjadi Mapala Prajnaparamita.
 
Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam dan Prajnaparamita berarti Dewi Pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuah, dalam bahasa Sanskerta.
 
Cinta kepada alam sepatutnya dilakukan tidak dalam bentuk maskulin, tapi lebih ke corak feminim. Corak maskulin yang serba ke-pria-an, cenderung menjadikan alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai, ditundukkan atau ditaklukkan. Pada akhirnya meluas sebagai penghancur, pemerkosa dan penista alam.
 
Bayangkan jika alam yang dicintai seperti sosok dewi (sebagaimana Prajnaparamita), pertama tentu saja harus memahami hatinya dan mendalami apa yang dipikirkannya. Namun kecintaan pada alam, yang serba maskulin, seringkali tanpa hati dan juga tertumbuk pada logika sesat. 
 
Inilah yang membuat mereka yang berkegiatan di luar ruangan, seringkali tak pantas disebut pencinta. Orang yang tak bisa menunjukkan belas kasih di luar ruangan, tak bisa dipercaya bisa membuktikan rasa sayang bila berada di dalam kamar tertutup.
 
 
1.Perkumpulan Pentjinta Alam yang pertama kali Didirikan oleh Awibowo, pada 18 Oktober 1953. Awibowo mendirikan PPA saat baru selesai pendidikannya di Universitas Indonesia di Bogor (sekarang IPB). 
 
Keberadaan Awibowo, sebagai biang super senior pencinta alam diceritakan oleh Alm. Norman Edwin dalam artikel di majalah Mutiara, 20 Juni-3 Juli 1984.
 
Sebuah pesan Awibowo untuk para pencinta alam yakni, “Terima kasih, kalian telah ikut menyuburkan benih-benih cinta alam yang kami taburkan dahulu. Jangan hanya berpartisipasi, tetapi berikan dedikasi yang murni kepada alam!”
 
2.Soe Hok Gie, lahir di Djakarta, 17 Desember 1942. Dua puluh enam tahun kemudian meninggal di Gunung Semeru, pada 16 Desember 1969. Ia menempuh pendidikan akademis di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
 
3.Norman Edwin, meninggal di usia 37 tahun (1955 - 1992). Ia lahir di Sungai Gerong, Sumatera Selatan, 16 Januari 1955. Pendidikannya ditempuh pada jurusan Sejarah Universitas Padjdjaran, Bandung, dan jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. 
 
Ia salah seorang pelopor ekspedisi besar ke beberapa gunung ternama dunia. Dirinyalah yang berhasil merubah Mapala UI menuju suatu organisasi pencinta alam yang berkemampuan tinggi dalam hal ekspedisi lintas negara.
 
Usahanya menuntaskan serial Pendakian tujuh puncak dunia Mapala UI dalam ekspedisi Seven Summit merupakan kesuksesannya sebagai pendaki, hingga wafat pertengahan April 1992. 
 
Saat itu, ia mendaki Gunung Aconcagua di perbatasan Argentina - Cile. Ia wafat bersama Didiek Samsu Wahyu Triachdi.
 
Kegiatan penjelajahan alam pada tahun 1980-an banyak terpublikasikan di sejumlah majalah dan surat kabar karena dirinya. Ia menulis diantaranya dalam majalah Mutiara dan harian Kompas. 
 
“Norman Edwin (MAPALA UI), Catatan Sahabat Sang Alam”. Sebuah buku yang berisi kumpulan artikel yang ditulis Norman berdasarkan pengalamannya ketika beraktifitas di alam terbuka pada dekade ’80-an sampai awal ’90-an.
 
Di buku tersebut terdapat sebuah artikel yang dimuat di majalah Mutiara edisi 323, 20 Juni – 3 Juli 1984 yang berjudul ‘Awibowo, “Biang” Pencinta Alam Indonesia.’
 
Awibowo adalah seorang pendiri dari suatu perkumpulan pencinta alam di negeri ini. Ketika itu Norman beruntung bisa berkunjung ke kediaman kakek tersebut di Yogyakarta dan mewawancarainya secara langsung. 
 
Awibowo pun sempat memperlihatkan Norman kartu anggota dan buku kecil Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga perkumpulannya.
 
“Selesai revolusi, kami ingin mengisi kemerdekaan ini dengan kecintaan terhadap negeri ini, itu kami wujudkan dengan mencintai alamnya” cerita Awibowo saat itu.
 
Saat itu, Awibowo baru saja menyelesaikan pendidikannya di Universitas Indonesia di Bogor (sekarang Institut Pertanian Bogor). 
 
Bersama  beberapa rekannya Awibowo berkumpul untuk mendirikan suatu perkumpulan yang bergerak dengan kegiatan-kegiatan di alam.
 
“Kami ramai berdiskusi soal istilah yang akan dipakai untuk menyebutkan perkumpulan itu,” cerita Awibowo.
 
Ada yang mengusulkan untuk memakai istilah “Penggemar Alam” atau “Pesuka Alam”. “Tapi saya mengusulkan istilah “Pentjinta Alam”, karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar atau suka,” tutur Awibowo melanjutkan cerita kepada Norman.
 
Dalam kartu anggota mereka tertulis: “PPA (Perkumpulan Pentjinta Alam) adalah perkumpulan kesukaan (hobby).” 
 
Selanjutnya tertulis: “Hobby diartikan suatu kesukaan jang positif serta sutji, lepas dan sutji dari “sifat maniak” jang semata-mata melepaskan nafsunya dalam tjorak negatief.
 
Dalam Anggaran Dasar perkumpulan tertua ini, dijelaskan bahwa tujuan mereka adalah: Memperluas serta mempertinggi rasa tjinta terhadap alam seisinja dalam kalangan anggauta-anggautanja dan masjarakat oemoemnja.
 
Untuk mencapai tujuan tersebut, perkumpulan ini mengadakan beberapa usaha, yaitu ceramah-ceramah, penerbitan majalah, wisata alam, dan pertunjukan film tentang lingkungan alam. Waktu itu mereka membuatnya dengan iuran-iuran anggotanya tanpa sponsor seperti jaman sekarang.
 
Salah satu kegiatan besar yang mengesankan bagi Awibowo yang pernah dilakukan PPA adalah pameran pada tahun 1954 dalam rangka peringatan hari lahir kota Yogyakarta dengan membuat taman dan memamerkan foto-foto kegiatan perkumpulan.
 
Perkumpulan “Pentjinta Alam” berkembang pesat. Dari jumlah hanya berapa orang, tidak lama kemudian anggota-anggota mereka bertambah. Bukan cuma dari Yogyakarta, melainkan juga dari kota-kota lain, seperti Jakarta dan Padang. Hingga bubarnya perkumpulan ini tercatat sekitar enam ratus orang.
 
Namun sayang perkumpulan ini tidak berumur panjang karena suasana negeri yang tidak mendukung pada saat itu. 
 
Situasi politik pada saat itu yang diwarnai oleh komunis menjadi salah satu sebab tidak berjalannya roda organisasi. Akhir tahun 1950,  perkumpulan “Pentjinta Alam” tak terdengar lagi namanya.
 
Inilah wawancara singkat antara Norman yang saat itu menjadi reporter majalah Mutiara dengan Awibowo, perintis dari perkumpulan pencinta alam pertama di Indonesia. 
 
Mereka telah menanamkan benih-benih cinta alam kepada bangsa Indonesia. Selayaknya kita sebagai generasi penerus bangsa ikut serta dalam menyuburkan benih-benih cinta alam yang sudah mereka tanam.
 
 
 
 
Sumber: Majalah Mutiara edisi 323, 20 Juni – 3 Juli 1984 - Awibowo, “Biang” Pencinta Alam Indonesia.’ ditulis Oleh Norman Edwin
 
-Portal Berita Petualang-
Hastag #Mapala #MapalaPTM
#Portal Berita: MapalaPTM.com 
#Outdoor Gear: Warung.MapalaPTM.com
#Facebook: MapalaPTM.com
#Twitter  : @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
 
Jika para petualang, Backpacker, Pecinta Alam, Mapala, maupun Sispala yang hobby menulis tentang Kegiatan- kegiatan Organisasinya, petualangannya, kritik kerusakan lingkungan, Wisata Alam,  dan Artikle-nya ingin dimasukan ke Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com, Silahkan tulisannya kirim ke email: MapalaPTM@gmail.com atau inbox ke Fanspage MapalaPTM.Com yang di facebook. 
 
Kami juga akan membuatkan username akun penulis dan passwordnya di portal MapalaPTM.Com, agar para penulis bisa langsung memposting artiklenya sendiri ke portal berita petualang MapalaPTM.Com
 
#Apabila ada teman-teman yang ingin kejuaraan panjat dinding-nya kita tayangkan di halaman MapalaPTM.com, diharapkan mengirimkan dalam bentuk artikle berita + famplet berbentuk landscape untuk judul beritanya.
 
Yuukkk Mari Menulis, Berbagi itu Indah...





Berita Terkait


Mapala Se-Kebumen Magelang & Wonosobo Ikut Semarakan Aksi Serentak Mapala Se-Jawa Peringati Hari Air
Peringati Hari Air Sedunia, Mapala Se-Malang Kompak Gelar Aksi Bersih dan Pembagian Bibit Pohon
Mapala Se-Bandung Kompak Gelar Aksi Bersih Sungai Dalam Rangka Peringati Hari Air Sedunia
Pementasan Wayang Tertinggi Se-Dunia, Tim Ekspedisi Kilimanjaro Mapala UMY Jogja Tiba di Afrika
Ratusan Warga Iringi Pemakaman Jenasah Patmi Aktivis Penolak Pembangunan Pabrik Semen Gunung Kendeng



IP Anda Adalah: 54.224.102.26

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2803062)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (46219)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (40832)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (32866)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (30045)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (29521)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (29071)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (28744)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (24846)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (23650)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (22909)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (20502)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (20059)

Jelang Milad ke-X, Mapalamu Luwuk Banggai Sulawesi Tengah Gelar Berbagai Kegiatan

Kerinci, Atap Sumatera Mempesona Berhasil Digapai Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days

Manfaatkan momen Car Free Day, MAPALA UMRI lakukan kegiatan ini

Anggota UPL MPA Unsoed Purwokerto Buka Jalur Pendakian di Gunung Slamet via Penakir

Keluarga Besar Mapala Muhammadiyah Se-Indonesia Ucapkan Selamat Milad Kepada Muhammadiyah Ke-105

Jenasah Pendaki Gunung Lawu Ditemukan Membusuk, Diperkirakan Meninggal Lebih dari Sebulan

Yogyakarta Siap Gelar Kejurnas Panjat Tebing XVI Untuk Jaring Atlet Potensial

GEMAPALA WIGWAM FH UNSRI sukses adakan kegiatan MUSI RIVER CAMP

Mengenal Lebih Dekat Pencinta Alam di Kota Sejuta Bunga, Mapala "SULFUR" UNTIDAR Magelang

II-Outfest, Pameran Aktivitas Outdoor Terbesar akan Meriahkan Pertama Kalinya di Kota Makassar

Kongres IV Pecinta Alam Bandung Raya Rekomendasikan Forum Nasional Pecinta Alam Indonesia

Membentuk Karakter Pemuda Lewat Pendidikan Dasar KPA Summit Adventure

Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days Menggapai Puncak Rantemario, Latimojong