MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Senin, 25 Desember 2017 - 22:57:20 WIB

Sampah Gunung Yang Harus Dimusnahkan adalah Pendaki Vandalisme

Kategori: Opini Diposting oleh : Ingus - Dibaca: 530 kali



"Pernahkah kalian bertemu buah karya pendaki vandalisme saat mendaki gunung, lalu iseng-iseng membacanya satu persatu?"

MapalaPTM.com (25/12) - Pendaki Vandalisme itu pendaki yang kayak gimana sih? Menurut KBBI: Vandalisme adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya) dengan melakukan perusakan, penghancuran secara kasar dan ganas.
 
Jadi dalam pendakian, yang dimaksud pendaki vandalisme adalah pendaki yang dengan sengaja mencoret, menulis, menggambar, menempeli, mengukir dan merusak tempat-tempat tertentu misalnya batu, pohon, papan, shalter dll dengan tujuan tertentu.
 
 
Dalam  melakukan pendakian, selain sampah yang bercecer di sepanjang jalur pendakian kita dengan mudah menjumpai karya pendaki vandalisme yang beragam. Selayakan WC umum di sekolah, kini gunung juga menjadi sasaran empuk manusia dalam hal meng-expresikan diri, entah alasan apa yang mendasari, melatar belakangi dan mendorong para pendaki membuat tulisan-tulisan tersebut. Hanya Tuhan dan pendaki vandalisme sendiri yang tahu!
 
Saking kelewat kreatifnya dan dengan  gilanya agar diakui exsistensinya oleh pendaki lain, pendaki Vandalisme membawa perlengkapan coret yang dipersiapkan begitu matang sebelum  mendaki gunung, bagaimana tidak? tipe-X, spidol permanent bahkan cat pilox tak luput tertinggal dari dalam carriernya.
 
Padahal saat menjadi siswa membawa tipe-X itu rasanya sangat sulit, tapi dalam hal pendakian bisa jadi kebutuhan utama. Niat bener ya pendaki Vandalime dalam aksi perusakan alam! Sungguh pendaki yang kekurangan lahan untuk hal mengexplorasikan bakat diri.  Sangat disayangkan jika pada akhirnya bakat  tersebut disalurkan pada media dan tempat yang tidak tepat, sehingga mengotori karya Yang Maha Agung.
 
 
Untuk apa? Apakah dengan menuliskan nama kekasih di bebatuan gunung sebuah cinta akan menjadi abadi? Apakah dengan menulis nama di bebatuan gunung bisa membuat dirinya menjadi artis? Padahal selain merusak pemandangan dan membuat perasaan orang lain tidak nyaman, tulisan-tulisan tersebut tidak ada faedahnya sama sekali berada di atas gunung. 
 
Apa mungkin kertas lebih mahal dari pada mendaki gunung, atau hanya ingin namanya dikenang abadi di gunung. Hanya orang-orang bodoh saja yang kurang kerjaan yang memilih menjadi aliran pendaki vandalisme.
 
"Pendaki yang melakukan Vandalisme sama sekali tidak pantas disebut pendaki gunung, lebih cocok disebut dengan Sampah Gunung"
 
 
Tahu kan sampah gunung?
Sampah yang membusuk di gunung karena terabaikan sang pemilik dan tidak dibawa turun kembali. Oleh karena itu sesungguhnya sampah gunung yang paling perlu dimusnahkan adalah pendaki vandalisme itu sendiri agar tidak mencemari pendaki lainnya.
 
Pendaki vandalisme lebih buruk daripada busuknya sampah-sampah yang berceceran di gunung. Aroma tersebutlah yang menarik perhatian untuk ditindak lanjuti. Sampah hidup yang bisanya hanya menjadi generasi perusak alam. 
 
Padahal sebagian besar pendaki paham bahwa gunung bukan tempat sampah, bukan pula tempat untuk nyampah namun tidak sedikit yang tidak sadar bahwa dirinya  telah melakukan vandalisme dan dengan bangga mengukir namanya, pacarnya atau bahkan organisasinya di setiap sudut pendakian. 
 
Pernah suatu ketika saat saya mendaki gunung dan saat istirahat di sebuah shalter, saya melihat tulisan yang tidak asing, dengan tanda tangan dan stiker yang menempel pada papan shalter tersebut. Sungguh sangat malu rasanya dari sebagian pendaki vandalisme ada orang yang pernah saya kenal, meskipun tidak kenal dekat saya kehilangan respect kepadanya.
 
Sebagai pendaki yang sadar dalam hal mencintai dan memiliki alam akan senantiasi menjaga dan merawat alam itu sendiri, jangankan pernah merusak hanya  mengotori saja rasanya diri tak mampu. Alam memang milik semua orang, oleh karena itu kita tisak pantas merusaknya hanya untuk kepuasan diri sendiri. Berhenti membudayakan kegiatan vandalisme, berhenti memalukan diri sendiri.
 
 
Lebih tepatnya pendaki vandalisme adalah pendaki yang tidak mensyukuri nikmat-Nya, seperti yang dijelaskan pada ayat berikut:
 
 "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)
 
Oleh karena itu genggamlah seteguh-teguhnya 3 prinsip pecinta alam ketika mendaki ataupun berkegiatan di alam bebas.
1. Jangan ambil apapun kecuali gambar (Don’t take anything but pictures)
2. Jangan bunuh apapun kecuali waktu (Don’t kill anything but times)
3. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki (Don’t leave anything but foot print)
 
 
Hingga saat ini memang belum ada cara untuk basmi tuntas budaya Vandalisme, jika budaya tersebut masih melekat pada diri sebagian pendaki.
 
Kita memang tidak harus menyalahkan hal-hal yg sudah terjadi, sekarang tinggal bagaimana kita memberikan gagasan yg baru agar maraknya pendaki vandalisme agar dapat dibasmi sedikit demi sedikit
 
Kita perlu contoh-contoh penggerak yang benar-benar beraksi dalam menyelematan alam dari para pelaku vandalisme, seperti beberapa organisasi dan golongan yang mulai terjun langsung untuk menghapus buah karya pendaki vandalisme. Ini lah kesempatan untuk kita semua turut terjun bersama-sama dengan penuh kesadaran dari. 
 
Sungguh bagaimana kita menikmati alam senikmat-nikmatnya, sehikmat-hikmatnya dan takjub setakjub-takjubnya jika masih banyak pendaki yang tidak meninggalkan jejak kaki namun meninggalkan jejak tangan? 
 
Jika bagiku pendaki vandalisme tidak ada bedanya dengan sampah gunung, bagaimana menurut kalian mengenai pendaki vandalisme? Silahkan berargumen tindakan yang tepat untuk menyadarkan pendaki vandalisme.
 
 
 
 
 
 
Kontributor: Ingus - Mapala Lokasamgraha, Bali
IG: ingus_228
 
-Media Petualang Indonesia-
Hastag #Mapala #MapalaPTM
#Facebook : MapalaPTM.com
#Twitter  : @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
#Youtube  : MapalaPTM
 
Jika para petualang, Backpacker, Pecinta Alam, Mapala, maupun Sispala yang hobby menulis tentang Kegiatan- kegiatan Organisasinya, petualangannya, kritik kerusakan lingkungan, Wisata Alam,  dan Artikle-nya ingin dimasukan ke Media Petualang Indonesia MapalaPTM.com, Silahkan tulisannya kirim ke email: MapalaPTM@gmail.com atau inbox ke Fanspage halaman MapalaPTM.com yang di facebook. 
 
Kami juga akan membuatkan username akun penulis dan passwordnya di portal MapalaPTM.com, agar para penulis bisa langsung memposting artiklenya sendiri ke Media Petualang Indonesia MapalaPTM.com
 
#Apabila ada teman-teman yang ingin kejuaraan panjat dinding-nya kita tayangkan di halaman MapalaPTM.com, diharapkan mengirimkan dalam bentuk artikle berita + famplet berbentuk landscape untuk judul beritanya.
 
Yuukkk Mari Menulis, Berbagi itu Indah...





Berita Terkait


Mapala Loka Samgraha UNDIKSHA Gelar Ekspedisi Waterfall di Bali
PKD Mapala Sulawesi Selatan Dirikan Posko Siaga Bencana Banjir Makassar
Ingus: Mendaki Gunung itu Perlu Totalitas, Munafik jika Puncak adalah Bonus
Mapala Mahesa Siap Gelar Diklatsar XVIII di Gunung Salak dengan Tema Berani Berilmu Berakhlak
Demokrasi Untuk Organisasi, Mapala MATRIX UM Metro Lampung Sukses Gelar MUBES ke- XIX



IP Anda Adalah: 54.226.41.91

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Mayor John Wesley P, Bpk Arung Jeram Dunia dgn pertama kali susuri Sungai Colorado sejauh 250 mil

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Berkemah di alam terbuka, mengasah kreatifitas anak & mampu hadapi tantangan utk selesaikan masalah

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Senyuman dpt menularkan kebahagiaan kpd orang lain, Senyum yg tulus bermanfaat dlm meraih kesuksesan

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Remaja masa kini lebih lancar berkomunikasi di sosial media, dibandingkan di kehidupan nyata

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Pikiran positif Anda akan menuntun kehidupan Anda pada hasil yang positif

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Melamun terbukti mampu buat Seseorang lebih kreatif & merangsang otak memunculkan ide-ide kreatif

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2823603)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (46591)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (42509)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (33275)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (30412)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (30275)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (29808)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (29505)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (25173)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (24223)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (23978)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (21090)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (20410)

Tim SAR Berhasil Evakuasi Pendaki Tersesat di Jalur Pendakian Gunung Sindoro via Sigedang

Empat Pendaki Tersesat di Jalur Pendakian Gunung Sindoro via Sigedang Akibat Kabut Tebal

Hobby Mendaki Gunung, Mahasiswi Cantik Asal Jogja Siap Taaruf Mencari Calon Imam

DIKDASLU KE- IX, MAPALU UM Sukabumi Lahirkan Angkatan Mutiara Api

Carstensz Pyramid, Tim 7 Summits Indonesia in 100 Days Sukses Gapai 7 Puncak Tertinggi Indonesia

Perlengkapan Wajib Tidak Dibawa, 2 Pendaki Gunung Panderman Tersesat

Gunung Agung Kembali Erupsi, Warga Senantiasa Waspada

ICC Gelar Indonesian Climber First Ascent Expedition Bumi Rafflesia, Bengkulu

Jalur Pendakian Gunung yang Resmi Ditutup, Update Januari 2018

Puncak Gunung Bukanlah Tujuan

Usus: Cara Pendaki Gunung Zaman Now Menanggapi Mitos

UPL MPA Universitas Jenderal Soedirman Bersiap Mendaki Gunung Aconcagua, Argentina

Tersesat, Pendaki Nekat Gunung Agung Dapat Bisikan Religius