MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Jumat, 04 Mei 2018 - 19:20:26 WIB

Tim Putri Indonesia asal Mahitala Unpar Bandung Menunggu Waktu Menuju Puncak Everest

Kategori: Adventure Diposting oleh : Kartika - Dibaca: 726 kali



Bandung, MapalaPTM.com (4/5) - Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU) semakin dekat dengan misi untuk mencapai Puncak Gunung Everest.
 
Pada hari rabu (3/5), dua orang pendaki dari tim ini kembali berada di Everest Base Camp (EBC) Tibet di ketinggian 5.150 meter di atas permukaan laut (mdpl), Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda).
 
Dua perempuan pendaki dari tim ini, baru saja menyelesaikan rangkaian proses aklimatisasi -adaptasi di ketinggian baru- panjang yang menjadi fokus selama sebulan lebih mereka di Nepal.
 
Proses aklimatisasi ini sendiri telah membawa Deedee dan Hilda ke ketinggian di atas 7.000 mdpl di mana kadar oksigen hanya sepertiga dibanding normal.
 
Foto: Dua Putri Indonesia Kibarkan Bendera Merah Putih di Everest Basecamp
 
Proses aklimatisasi tahap akhir Tim WISSEMU dimulai dari EBC pada tanggal 26 April 2018.
 
Dari situ rencananya mereka akan pergi hingga ketinggian 7.400 mdpl, sebelum kembali lagi ke EBC untuk memaksimalkan proses aklimtisasi ini.
 
Hari pertama tim bergerak menuju Intermediate Camp (IR) di ketinggian 5.800 mdpl, lama perjalanan kurang lebih 7 jam.
 
Setelah sampai di sana tim memutuskan untuk menginap semalam sebelum besok paginya, 27 April 2018, mereka melanjutkan perjalanan menuju Advanced Base Camp (ABC) yang berada pada ketinggian 6.400 mdpl.
 
Untuk mencapai ABC sendiri, perjalanan sepanjang kurang lebih 7 jam perjalanan harus dilalui.
 
ABC di jalur utara menyajikan rute pendakian paling spektakuler di Himalaya karena melewati Sungai Es Morain dan pemandangan balok-balok es besar di sisi-sisi jalur pendakian.
 
Langit-langit dikelilingi awan tebal dengan suhu mencapai - 11° Celcius menemani Hilda dan Deedee selama berada di sana. Mereka akan menyesuaikan diri dengan menginap di ketinggian baru ini selama 3 malam sampai tanggal 30 April 2018.
 
Bukan hanya indah, di titik ini juga ada satu hal penting bagi pendakian ini. Malam pertama di ABC adalah kali pertama mereka akan tidur di atas 6.000 mdpl.
 
Foto: Saat Tim Wissemu Menggunakan Tangga di Tengah Perjalanan
 
Sekadar catatan saja menipisnya kadar oksigen di ketinggian ini memaksa kedua pendaki ini juga harus tidur dengan bantuan tabung oksigen —layaknya seorang yang menyelam ke dalam laut, dengan bukaan 0,5 liter/menit dari tabung.
 
Tiga malam melakukan adaptasi di ABC (6.400 mdpl), 1 Mei 2018 tiba saatnya Hilda dan Deedee berpapasan dengan North Col di ketinggian 7.020 mdpl.
 
Tempat ini juga menjadi spesial, karena merupakan titik ketinggian yang belum pernah dicapai Deedee dan Hilda sebelumnya --titik tertinggi selama ini merupakan Puncak Gunung Aconcagua (6.962mdpl).
 
North Col merupakan punggungan tebing es sebelum puncak Everest yang dikenal sebagai jalur berbahaya, karena dari sini pendaki harus melewati jurang es dengan tangga dan jalur fix rope di kemiringan 60°.
 
Titik terdekat untuk menginap dari North Col adalah Camp 1. Total mereka berjalan kurang lebih 8 jam untuk tiba di Camp 1 di ketinggian 7.030 mdpl.
 
Suhu di sana mencapai sekitar -19° Celcius dengan angin cukup kencang ditemani hujan salju, Mereka menginap di Camp 1 selama semalam.
 
Keesokan paginya, proses aklimatisasi ini akan mencapai puncaknya kala mereka berjalan ke daerah di ketinggian 7.400 mdpl. setengah perjalanan menuju Camp 2, sebelum kembali lagi ke EBC.
 
Manfaat kembali ke EBC untuk memaksimalkan proses aklimatisasi, kembali ke ketinggian yang lebih rendah setelah mencapai titik tertentu perlu dilakukan agar proses aklimatisasi berjalan dengan maksimal.
 
Selain itu persiapan logistik akhir, pemeriksaan kondisi tubuh untuk summit attempt juga dilakukan di EBC.
 
Mathilda, salah satu anggota tim wissemu mengatakan, “Puji Tuhan, sekarang kita udah sampe di Everest Base Camp udah bisa ngasih kabar kabar lagi". 
 
"Semua proses aklimatisasinya berjalan lancar. Walau sempet kena cuaca buruk tapi Puji Tuhan semua anggota tim sehat semua. Gak nyangka sekarang sudah pernah sampai ke ketinggian 7000an” tutur Hilda lagi lewat sambungan telepon satelit.
 
Deedee dan Hilda sebelumnya dilepas dari Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 29 Maret 2018. 
 
Dua orang mahasiswi yang masih terdaftar aktif di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini sebelumnya telah mengibarkan Bendera Merah Putih di enam puncak gunung tertinggi di enam lempeng benua lain.
 
Mereka mencatatkan diri sebagai tim perempuan Iandonesia pertama yang berhasil mencapai puncak Puncak Gunung Denali (6.190 mdpl), Alaska dan Puncak Gunung Vinson Massif, Antartika (4.190 mdpl).
 
 
 
 
 
Kontributor: Humas Mahitala Unpar Bandung
 
-Media Petualang Indonesia-
Hastag #Mapala #MapalaPTM
#Facebook : MapalaPTM.com
#Twitter  : @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
#Youtube  : MapalaPTM
 
Jika para petualang, Backpacker, Pecinta Alam, Mapala, maupun Sispala yang hobby menulis tentang Kegiatan- kegiatan Organisasinya, petualangannya, kritik kerusakan lingkungan, Wisata Alam,  dan Artikle-nya ingin dimasukan ke Media Petualang Indonesia MapalaPTM.com, Silahkan tulisannya kirim ke email: MapalaPTM@gmail.com atau inbox ke Fanspage halaman MapalaPTM.com yang di facebook. 
 
Kami juga akan membuatkan username akun penulis dan passwordnya di portal MapalaPTM.com, agar para penulis bisa langsung memposting artiklenya sendiri ke Media Petualang Indonesia MapalaPTM.com
 
#Apabila ada teman-teman yang ingin kejuaraan panjat dinding-nya kita tayangkan di halaman MapalaPTM.com, diharapkan mengirimkan dalam bentuk artikle berita + famplet berbentuk landscape untuk judul beritanya.
 
Yuukkk Mari Menulis, Berbagi itu Indah...





Berita Terkait


Para Pendaki Gunung Alpen Swiss Meninggal Dunia Akibat Terjebak Cuaca Buruk
Mahasiswa asal Mataram Meninggal Saat Melakukan Pendakian di Gunung Rinjani
Siap Jadi Seven Summiter Wanita Pertama Indonesia, Dua Putri asal Bandung Tiba di Basecamp Everest
Fenomena Alam yang Tidak Biasa, Lapisan Es Muncul di Puncak Gunung Semeru
7 Hari Pencarian di Gunung Merbabu, Pendaki Slovakia Ditemukan Meninggal di Aliran Sungai Kalimenek



IP Anda Adalah: 54.81.254.212

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Mayor John Wesley P, Bpk Arung Jeram Dunia dgn pertama kali susuri Sungai Colorado sejauh 250 mil

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Berkemah di alam terbuka, mengasah kreatifitas anak & mampu hadapi tantangan utk selesaikan masalah

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Senyuman dpt menularkan kebahagiaan kpd orang lain, Senyum yg tulus bermanfaat dlm meraih kesuksesan

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Remaja masa kini lebih lancar berkomunikasi di sosial media, dibandingkan di kehidupan nyata

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Pikiran positif Anda akan menuntun kehidupan Anda pada hasil yang positif

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Melamun terbukti mampu buat Seseorang lebih kreatif & merangsang otak memunculkan ide-ide kreatif

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2877700)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (47330)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (44880)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (34062)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (33607)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (31148)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (30606)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (30410)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (26636)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (26128)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (24608)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (22726)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (21100)

Mapala Satria UM Purwokerto Siap Gelar Kompetisi Panjat Dinding Se-Jawa Bali Sumatra 2018

Buka Bersama dan Talkshow "Kompetensi dan Sertifikasi dalam Bidang Pecinta Alam"

GEMAPALA BBC Cirebon Akan Menggelar Festival Ramadhan 2018

GUNUNG BUKAN MILIK KALANGAN DAN GOLONGAN.

Derita Para Petani Salingka Gunung Talang Terkait Konflik Mega Proyek PLTPB Geothermal

Dua Srikandi Gapai Puncak Gunung Tertinggi Dunia di Everest, Seven Summiter Wanita Pertama Indonesia

Predator Sebagai Penunjang Ekosistem

Jelang Ramadhan, PMPA KOMPOS FP UNS Gelar Donor Darah

Indofest 2018 Jakarta Telah Mulai Dibuka, Pagelaran Festival Outdoor Terbesar di Indonesia

Tim Putri Indonesia asal Mahitala Unpar Bandung Menunggu Waktu Menuju Puncak Everest

Para Pendaki Gunung Alpen Swiss Meninggal Dunia Akibat Terjebak Cuaca Buruk

Mapala Satria UMP Siap Gelar Talk Show Dampak Mega Proyek PLTPB Terhadap Hutan Lindung Gunung Slamet

Pemutaran Film dan Diskusi Asimteris Dalam Rangka Memperingati Hari Bumi Se-Dunia